Laman

Jumat, 25 Juni 2010

Hukum Islam dalam dinamika Kehidupan Sosial

I. TUJUAN

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:

1. Mengatahui dan memahami pengertian hukum Islam.

2. Mengatahui dan memahami sumber hukum Islam.

3. Mengatahui dan memahami fungsi hukum Islam.

4. Mengatahui dan memahami kontribusi umat Islam dalam perumusan dan penegakan hukum di Indonesia.

II. DEFINISI

1. Hukum Islam adalah peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berkenaan dengan kehidupan berdasarkan Qur’an dan Hadis.

2. Sumber utama hukum Islam ialah Kitabullah dan Sunah Rasul.

3. Fungsi Hukum adalah untuk menegakan keadilan.

III. PEMBAHASAN

A. Konsep Hukum

Secara etimologis, kata hukum bermakna ”menetapkan” sesuatu pada yang lain”seperti menetapkan mana yang diperintah dan mana yang dilarang. Sedangkan secara istilah, seperti yang dikemukakan oleh Abu Zahrah, hukum adalah titah Allah yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf.

Hukum Islam disyariatkan Allah kepada manusia di dunia yang menyangkut berbagai macam persoalan. Mereka diharapkan mengikuti hukum Islam tersebut, agar mendapat kebahagiaan di hidupnya.

Tata kehidupan manusia diatur dengan hukum Allah. Tujuan disyariatkannya hukum Islam adalah untuk mewujudkan kehidupan hasanah bagi mereka, baik hasanah di dunia maupun di akhirat. Upaya untuk mewujudkan kebaikan bagi mereka melalui ketentuan-ketentuan yang dharui (primer), haji (sekunder), dan tahsini (tertier)

Ketentuan-ketentuan yang dhrui adalah ketentuan-ketentuan hukum yang dapat memelihara kepentingan hidup manusia dengan menjaga dan memelihara kemaslahatan mereka. Jika norma-norma tersebut tidak dipatuhi, maka manusia akan dihadapkan pada kesukaran. Secara umum, ketentuan-ketentuan dhrui berupaya untuk memelihara lima hal: agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.

Sementara ketentuan-ketentuan haji adalah ketentuan-ketentuan yang memberi peluang bagi manusia untuk memperoleh kemudahan-kemudahan dalam keadaan mereka sukar, untuk mewujudkan tujuan-tujuan diharui. Sedang ketentuan-ketentuan tahsini adalah berbagai ketentuan yang menuntut manusia untuk melaksanakan ketentuan diharui dengan cara yang lebih baik. Oleh karena itu, ketentuan tahsini berkaitan erat dengan pembinaan akhlak yang baik dan melaksanakan berbagai ketentuan dhrui dengan cara yang paling sempurna.

Hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan Allah melalui wahyu-Nya, yang kini terdapat dalam al-Quran dan dijelaskan Nabi Muhammad Saw melalui Sunnah beliau yang kini terhimpun dalam kitab-kitab hadis. Dalam masyarakat Indonesia berkembang berbagai macam istilah, di mana istilah satu dengan yang lainnya mempunyai persamaan dan sekaligus juga mempunyai perbedaan. Istilah-istilah yang dimaksud adalah syariat Islam dan fikih Islam Oleh karena itu seorang yang akan memahami hukum Islam dengan baik dan benar dan mampu membedakan syariat Islam dengan fikih Islam.

Hukum Islam baik dalam pengertian syariat maupun fikih dibagi menjadi dua bagian yang besar, yakni ibadah dan muamalah. Hukum Islam sangat luas, bahkan luasnya hukum Islam masih masih dapat dikembangkan lagi sesuai dengan aspek yang berkembang di masyarakat yang belum dirumuskan oleh (para yuridis Islam) di masa lampau seperti hukum bedah mayat, bayi tabung, keluarga berencana, dan bunga bank.

Adapun tujuan hukum Islam secara umum adalah untuk mencegah kerusakan manusia dan mendatangkan kemaslahatan bagi mereka serta mengarahkan pada kebenaran. Hal itu dimaksudkan untuk mencapai kehidupan bahagia di dunia dan di akhirat.

Konsep hukum Islam adalah menegakan keadilan kebersamaan dalam kebaikan. Keadilan dan persamaan merupakan inti membangun hukum itu sendiri. Artinya bahwa penerapan hukum tak pandang bulu, semua sama di dalam hukum.

Hukum merupakan ”panglima” yang menjaga hak dan kewajiban antara warga negara dengan negara yang sebenarnya telah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam perjalanan hidupnya.

B. Sumber Hukum Islam

Secara etimologis hukum (arab) adalah itsbatu syai’in’ala syai’in (memutuskan suatu perkara berdasarkan suatu aturan). Secara terminologi adalah peraturan yang ditetapkan Allah untuk hambanya yang mukallaf. Kata “hukum” dalam peristilahan Islam yang landasannya bahasa al-Qur’an sebenarnya tidak sama persis dengan dimaksud dengan kata hukum dalam bahasa Indonesia. Kata hukum Islam adalah kata yang spadan dengan kata “syariah”, yang kemudian disambung dengan kata Islam sehingga menjadi “syariah Islam”, yaitu hukum Islam.

Syariat Islam secara garis besar mencakup tiga hal:

1. Ahkam Syar’iyyah I’tiqadiyah yaitu hukum-hukum yang berkenaan dengan aqidah atau keimanan.

2. Ahkam Syar’iyyah Khuluqiyah yaitu hukum-hukum yang bekenaan dengan akhlak.

3. Ahkam Syar’iyyah’Amaliyah yaitu hukum-hukum yang berkenaan dengan pelaksanaan syariah dalam pengertian khusus. Petunjuk yang mengatur tata cara beribadah dengan Allah dan mengatur hubungan dengan manusia dan lingkungannya.

Pada umumnya , ulama mengajarkan bahwa sumber hukum islam adalah empat, yaitu al-Quran, hadis, ijma, dan qiyas. Sementara ada yang berpendapat lain hanya tiga, yaitu al-Quran, hadis, dan ijtihad.

Berbagai pandangan tentang rumusan sumber hukum Islam semuanya mempunyai dasar. Apabila dipadukan terlihat kesatuan hukum yang terkait. Nabi bersabda:

“Aku tinggalkan bagi kamu dua pedoman, apabila kamu berpegang kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu al-Quran dan hadis”.

1. Al-Quran

Ditinjau dari segi bahasa, al-Quran mempunyai arti bermacam-macam, salah satunya menurut pendapat yang lebih kuat adalah “bacaan” atau yang dibaca”. Pendapat ini beralasan bahwa al-Quran adalah bentuk masdar dari kata qaraa, yaqrau, quranan artinya membaca.

Ditinjau dari segi terminologinya juga mempunyai beberapa definisi, antara lain:

Al-Quran adalah firman Allah yang merupakan mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi terakhir melalui perantara malaikat Jibril

Al-Quran adalah lafal berbahasa Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan diperintahkan membacanya.

Ditinjau dari fungsinya al-Quran mempunyai fungsi anatar lain:

1. Sebagai petunjuk

2. Sebagai penjelas

3. Sebagai pembeda

Ada beberapa prinsip yang mendasar dalam menetapkan hukum yang terdapat dalam al-Quran yaitu:

1. Umum

2. Orisinil

3. Mudah dan tidak memberatkan

4. Keselarasan dan keseimbangan

5. Berproses dan bertahap

2. As-Sunnah atau al Hadis

Kata sunnah, secara etimologi bermakna jalan, tata laku, atau cara bertindak. Jadi Sunnah Rasul adalah jalan yang lurus dan prilaku Nabi sepanjang hidupnya. Oleh karena itu perkataan, perbuatan, dan diamnya Nabi disebut sunnah rasul. Selain istilah sunnah dikenal juga dengan istilah hadis yang berarti berita atau catatan tentang suatu perkataan, perbuatan, dan perizinan Nabi. Sebagian ulama membedakan kalau hadis ialah peristiwa yang disadarkan kepada Nabi. Walaupun hanya mengerjakannya hanya sekali. Sedangkan sunnah adalah suatu yang dilakukan Nabi secara terus-menerus.

a. Macam-macam sunnah/hadis

1) Ditinjau dari segi bentuknya

· Sunnah Qauliyah, yakni perkataan Nabi yang beliau sampaikan dalam berbagai kesempatan

· Sunnah Fi’liyah, yakni perbuatan yang dilakukan Nabi

· Sunnah Taqririyah, yakni sikap Rasulullah membiarkan perbuatan sahabat yang menunjukkan bahwa beliau menyetujui atau mengizinkannya.

2) Ditinjau dari segi kualitasnya:

· Shaih, ialah hadis yang diriwayatkan oleh parawi (orang) yang adil, sempurna hafalannya, sanadnya bersambung sampai kepada Rasul, dan tidak terdapat keganjilan

· Hasan, ialah hadis yang diriwayatkan oleh parawi yang adil, kurang sempurna hafalannya , sanadnya bersambung, tidak terdapat keganjilan.

· Dha’if, ialah hadis yang diriwayatkan parawi yang lemah (tidak adil), terputus sanadnya, mempunyai cacat atau kehilangan salah satu syarat hadis hasan.

3) Ditinjau dari segi diterima atau ditolak:

· Maqbul, ialah hadis yang diterima dan dapat dijadikan hujjah atau atau dalil.

· Mardud, ialah hadis yang ditolak dan tidak boleh dijadikan hujjah atau dalil.

4) Ditinjau dari segi siapa yang berperan terdiri dari:

· Marfu, ialah hadis yang disadarkan kepada Nabi

· Mauquf, ialah hadis yang disadarkan kepada para sahabat

· Maqtu, ialah hadis yang disampaikan kepada tabi’in

5) Ditinjau dari segi jumlah orang yang meriwayatkan:

· Mutawatir, ialah hadis yang diriwayatkan oleh orang yang banyak yang tidak terhitung.

· Masyur, ialah hadis yang diriwayatkan orang banyak, tetapi tidak sebanyak derajat mutawatir.

· Ahad, ialah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang atau lebih tetapi tidak cukup terdapat padanya sebab-sebab yang menjadikannya ke derajat masyur.

b. Fungsi dan Kedudukan hadis sebagai sumber hukum

· Menetapkan dan memperkuat hukum-hukum yang telah ada di al-Quran

· Memberi penjelasan terhadap ayat-ayat al-Quran dalam kaitan ini berfungsi sebagai penafsir, membatasi atau mengecualikan.

· Menetapkan hukum yang tidak ada penjelasannya yang ada di dalam al-Quran

3. Ijtihad

Kata ijtihad dan jihad mempunyai akar kata yang sama yaitu jahada yang artinya berusaha sekuat tenaga, bersungguh-sungguh, berusaha keras.. Jihad diartikan sebagai pengerahan kemampuan maksimal secara fisik sedangkan ijtihad lebih cenderung pada segi ilimiah.

Secara terminologi ijtihad berarti mengerahkan segala kemampuan secara maksimal dalam mengungkap kejelasan dan memahami ayat al-Quran dan sunnah.

a. Perlunya ijtihad

Ijtihad sebagai sumber hukum ketiga, diakui keberadaannya dalam Islam sebagai hasil akal pikiran merupakan sumber pengembangan nilai-nilai Islam yang berlandaskan al-Quran dan sunnah.

Perlunya ijtihad disepakati para ulama, karena tak dapat tidak perkembangan pemikiran manusia yang berkembang sesuai dengan tuntutan zaman

b. Ruang lingkup ijtihad

Ijtihad diperlukan untuk menetapkan suatu ajaran dalam menghadapi masalah-masalah dalam masyarakat yang belum pernah terjadi sebelum zaman Nabi Muhammad Saw. Dan belum ada ketetapan hukumnya seperti masalah inseminasi, penggantian kelamin, donor mata, dan bayi tabung. Semua hal tersebut memerlukan ijtihad untuk menetapkan hukumnya.

c. Metode-metode ijtihad

· Ijma

Menurut bahasa artinya, menghimpun, berkumpul, dan menyusun. Menurut istilah , ijma yaitu kesepakatan pendapat mujtahid pada suatu masa tentang hukum sesuatu.

· Istihsan

Menurut bahasa menganggap baik suatu hal (mengutamakan kebaikan atau keadilan). Menurut istilah yaitu menjalankan keputusan berdasarkan kebaikan untuk kepentingan umum.

· Qiyas

Menurut bahasa artinya adalah mengukur atau mempersamakan sesuatu dengan yang lain. Menurut istilah yaitu mempersamakan suatu kejadian/hukum yang belum ada nash mengenai hukumnya.

· Mashlahah Mursalah

Secara bahasa bermakna mendatangkan kebaikan bersama. Menurut istilah yaitu menetapkan hukum hukum berdasarkan suatu kemaslahatan yang tidak ditetapkan dengan syara.

· Istishab

Yaitu menetapkan hukum sesuatu menurut keadaan sebelumnya, sampai ada dalil yang mampu mengubahnya.

· Saddudz Dzari’ah

Melarang sesuatu yang mubah dengan maksud untuk menghindarkan kemudaratan yang mungkin akan timbul.

· Urf, yaitu menetapkan hukum sesuatu berdasarkan adat kebiasaan, selama kebiasaan itu tidak bertentangan dengan Islam.

d. Syarat-syarat mujtahid

Menjadi seorang mujtahid bukanlah perkara yang mudah, ada persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dimiliki dan dikuasai. Berikut ini dikemukakan beberapa syarat antara lain:

1. Mengatahui dan memahami al-Quran dan hadis dengan baik.

2. Mengatahui bahasa Arab dari segala segi.

3. Mengatahui dan memahami ilmu usul fiqh.

4. Mengatahui dan memahami ilmu nasikh dan mansukh.

5. Mengatahui hukum-hukum yang ditetapkan dengan ijma.

e. Kebenaran hasil ijtihad

Ijtihad adalah penggunaan akal pikiran untuk memahami nash yang penunjukan zanny, serta memecahkan masalah persolan yang tumbuh di masyarakat berdasarkan prinsip dan nilai Islam. Oleh karena itu hasil ijtihad kebenarannya relatif, karena mencangkup kemampuan nalar mujtahid.

C. Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Bermasyarakat

· Fungsi ibadah

Merupakan fungsi utamanya dalam berhubungan dengan Allah set

· Fungsi amar ma’ruf nahi munkar

Fungsi dan perannya adalah menciptakan kebaikan dan menghindari kemudharatan

· Fungsi zawajir

Terlihat dalam pengharaman membunuh dan berzina, serta disertai ancaman hukumnya.

· Fungsi tanzim wa Islah al-Ummah

Mempelancar proses interaksi sosial, sehingga terwujud masyarakat yang harmonis, aman dan sejahtera.

D. Kontribusi Umat Islam dalam Perumusan dan Penegakan Hukum

Kontribusi umat Islam dalam penegakan hukum di Indonesia nampak jelas setelah Indonesia merdeka. Sebagai hukum yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, hukum Islam telah menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Kontribusi umat Islam dalam perumusan dan penegakan hukum pada akhir-akhir ini semakin nampak jelas dengan diundangkannya beberapa peraturan perundang-undangan berkaitan dengan hukum Islam.

Usaha yang dilakukan untuk menegakan hukum Islam dalam praktik bermasyarakat dan bernegara memang harus melalui proses yakni proses kultural dan dakwah. Apabila Islam sudah bermasyarakat, maka konsekuensinya hukum harus ditegakan. Bila perlu dalam penegakan hukum Islam dengan hukum positif, yakni melalui legislasi.

1 komentar:

  1. izin copas bro buat makalah dengan judul dan mata kuliah yang sama, pasti sertai sumber kok, tenang.

    BalasHapus